Selasa, September 30, 2008

SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1429 H


Get Hari Raya Graphics Here



Get Hari Raya Graphics Here



Jika Cinta adalah Istana, Maka Kejujuran adalah singgasana..
Jika kesetiaan adalah mahkota, maka maaf seorang sahabat adalah keabadian tahta..

KAMI DARI SELURUH PENGURUS FOSCA MENGUCAPKAN :

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1429 H.

Minal Aidzin Walfaidzin..
Mohon Maaf Lahir Dan Batin

Jumat, September 26, 2008

FOSCA Goes To School

Beberapa hari yang lalu, tepatnya hari minggu, 21 september 2008.. suatu kesempatan yang sangat menyenangkan bagi FOSCA. karena ini adalah kesempatan yang pertama kalinya FOSCA tampil di depan publik.

FOSCA hadir dalam acara Pesantren Ilmiah Remaja yang diadakan oleh KIR dari SMAN 4 Bekasi. Perwakilan dari FOSCA yang kali ini hanya dari SMAN 38 Jakarta yaitu Indra Firdaus dan dari SMAN 34 Jakarta yaitu Titania Virginiflosia berangkat menuju lokasi dari Planetarium pukul 11.30 Kebetulan FOSCA hadir dalam acara tersebut berkat Pembina yang mengajak kita untuk mengisi materi di acara tersebut.

Perjalanan cukup jauh.. Sampe2 kita sendiri bingung.. udah mana panas banget..
Sampai lokasi sekitar jam 1.. kemudian kita langsung sholat terlebih dahulu..
Setelah sholat kita langsung masuk materi.. Materi pertama diberikan oleh Kak Nurdiansah selaku pembina FOSCA.. beliau memberikan materi tentang Astronomi dalam Islam..

Pemberian Materi Oleh Kak Nurdiansah



Setelah Kak Nurdin memberikan materi, ada jeda istirahat.. jeda istirahat ini dipakai oleh panitia untuk memasang film upin dan ipin. film ini membuat para peserta tertawa terbahak2.

Film yang totalnya 6 episode di setel hanya 3 episode. dan langsung jeda untuk sholat Ashar..

Setelah jeda sholat ashar.. ini dia waktu yang paling ditakutkan oleh FOSCA.. pemberian materi tentang KIR.. Asal usul FOSCA didirikan.. dan kemudian sesi tanya jawab..
Persiapan Materi Oleh FOSCA

Materi yang di sajikan hanya berkisar tentang FOSCA.. kegiatan apa saja yang sudah dilakukan oleh FOSCA.. Peserta dari KIR SMAN 4 Bekasi sangat antusias dengan FOSCA.. Hanya saja mereka sedikit kecewa karena untuk tahun ini dan tahun 2009.. Kegiatan yang diadakan oleh FOSCA hanya berkisar tentang Astronomi..

Pemberian materi oleh FOSCA [Indra Firdaus]

Materi Astronomi dalam Islam Oleh Kak Nurdiansah

Memperkenalkan Astronomy Project dari FOSCA oleh KIR SMAN 4 Bekasi

Tanya jawab yang di moderatori oleh Dio [ KIR SMAN 4 Bekasi ]

Kegiatan ini dilaksanakan sampai buka puasa.. FOSCA berbuka puasa bersama para Peserta dari SMAN 4 Bekasi dan juga dari Alumni2 KIR SMAN 4 Bekasi yang rata2 mereka sudah bekerja..

Persiapan berbuka puasa oleh akhwat KIR SMAN 4 Bekasi

Ramah tamah dengan Alumni KIR SMAN 4 Bekasi

Well.. Dari FOSCA untuk acara tersebut sangat menarik, menambah pengalaman FOSCA dalam hal Presentasi..

Kawan.. Harap sabar yah untuk Penelitian yang lain.. Sedang diusahakan..
Thank's..

-RigeL

Rabu, September 24, 2008

Electrical Activity on Titan Confirmed: The Spark for Life?

NASA/JPL/Space Science Institute/ESA

Titan not only has an atmosphere it has hydrocarbon lakes, oceans, sand dunes and now research has just been published proving Saturn's moon is sparkling with electrical activity. Scientists are in general agreement that organic molecules, the precursors to life on Earth, are a consequence of lightning in the atmosphere. Now, using data from the Huygens probe that descended through Titan's atmosphere in 2005 and continued transmitting for 90 minutes after touchdown, Spanish scientists have "unequivocally" proven that Titan has electrical storms too. The presence of electrical activity in the atmosphere is causing much excitement as this could mean that organic compounds may be found in abundance on the Titan surface.

The fruits from the Cassini-Huygens mission are coming thick and fast. Only yesterday, Nancy reviewed the discovery of liquid hydrocarbon lakes by Cassini's Visual and Infrared Mapping Spectrometer (VIMS). Although possible lakes have been theorized, it is only now that there is observational proof of the existence of such features. Now, three years after the Huygens probe dropped through Titan's atmosphere, scientists have made another crucial discovery: Titan experiences electrical activity in its atmosphere. Now Titan has all the necessary components for life; it has an atmosphere with electrical activity, increasing the opportunity for prebiotic organic compounds to form, thus increasing the possibility for life to evolve.

According to Juan Antonio Morente from the University of Granada, Titan is already considered a "unique world in the solar system" since the early 20th Century when Spanish astronomer José Comas y Solá made the discovery that the Saturn moon had an atmosphere. This is what makes Titan special, it has a thick atmosphere, something that is not observed on any other natural satellite in the Solar System.

"On this moon clouds with convective movements are formed and, therefore, static electrical fields and stormy conditions can be produced. This also considerably increases the possibility of organic and prebiotic molecules being formed, according to the theory of the Russian biochemist Alexander I. Oparín and the experiment of Stanley L. Miller [who managed to synthesise organic compounds from inorganic compounds through electrical discharges] That is why Titan has been one of the main objectives of the Cassini-Huygens joint mission of NASA and the European Space Agency" - Juan Antonio Morente.

Morente and his team analysed data from Huygens' Mutual Impedance Probe (MIP) that measured the atmospheric electrical field. The MIP instrument was primarily used to measure the atmosphere's electrical conductivity but it also acted as a dipolar antenna, detecting the natural electric field. The MIP was therefore able to detect a set of spectral peaks of extremely low frequency (ELF) radio signals (known as "Schumann resonances"). These ELF peaks are formed between the moon's ionosphere and a huge resonant cavity in which electromagnetic fields are confined.

The detection of these signals have led the Spanish researchers to state that it is "irrefutable" evidence of electrical activity on Titan, not dissimilar to static charge that builds up in the terrestrial atmosphere, leading to electrical storms.

Source: Scientific Blogging

Karya Astronom Indonesia

Bagaimana sebuah sistem planet terbentuk? Se-umum apakah keberadaan sistem planet di alam semesta ini? Bagaimana susunannya dan berapa banyak planet mirip Bumi yang mendukung kehidupan ada di Galaksi bimasakti? Atau lebih jauh lagi, adakah kehidupan lain di semesta yang luas ini? Sepanjang dekade terakhir, astronom berhasil menuju pada jawaban pertanyaan-pertanyaan tersebut dengan penemuan sistem ekstrasolar pada bintang serupa Matahari sejak tahun 1995. Semenjak itu berbagai sistem telah ditemukan. Bahkan diketahui memang ada planet yang tergolong planet pendukung kehidupan di sistem bintang Gliese 581.

Nah, bagaimana planet terbentuk? Yang kita ketahui, planet terbentuk dari debu dan gas pada piringan disekeliling bintang tak lama setelah sebuah bintang terbentuk. Planet akan terbentuk melalui proses tabrakan diantara materi-materi debu dari ukuran butiran debu menjadi embrio planet. Saat inti planet tumbuh dan sudah cukup masif, ia akan mulai mengakresi materi gas yang ada di piringan disekelilingnya. Alternatif lainnya, planet-planet raksasa diperkirakan terbentuk dari ketidakstabilan gravitasi di dalam piringan bintang tersebut. Skala waktu pembentukan planet ini juga ditentukan dari proses hamburan di dalam piringan. Dari hasil pengamatan bintang-bintang muda, diketahui kalau piringan tersebut terbentuk dalam waktu 10 juta tahun setelah bintang terbentuk.

Sampai saat ini survei untuk extrasolar planet belum pernah menemukan planet disekitar bintang yang lebih muda dari 100 juta tahun. Satu-satunya planet yang masih muda ditemukan dengan meggunakan teknik direct imaging pada jarak 55 SA di bintang katai coklat 2MASS1207.


Illustrasi artis untuk TW Hydra (T Hya). Kredit : Johny Setiawan (JSW art 2007)

Kali ini, tim astronom dari Max Planck Institute for Astronomy (MPIA) di Heidelberg berhasil menemukan sistem extrasolar termuda dengan metode variasi kecepatan radial. Metode kecepatan radial mendeteksi perubahan kecepatan gaya gravitasi dari exoplanet (yang tak terlihat) saat ia mengorbit bintangnya.

Sistem yang ditemukan tersebut mengitari bintang muda yang masih dikelilingi oleh piringan gas dan debu yang baru saja membentuk dirinya. Penemuan ini akan memberi informasi yang penting bagi kita dalam hal waktu pembentukan planet dan memberi kunci penting dalam memahami bagaimana dan dimana planet terbentuk. Sebuah jawaban dari pertanyaan yang menjadi misteri selama berabad-abad. Tim astronom dari MPIA telah memonitor variasi kecepatan radial dari sekitar 200 bintang dalam pencarian sistem ekstrasolar. Salah satu diantaranya adalah bintang TW Hydrae, yang berusia 8 - 10 juta tahun (sekitar 1/500 umur Matahari). Sama seperti bintang yang masih muda, TW Hydrae juga masih dikelilingi piringan debu dan gas antar bintang, yang diyakini sebagai tempat lahirnya planet-planet.

Tim yang dipimpin Johny Setiawan yang juga astronom asal Indonesia ini berhasil menemukan planet yang mengorbit bintang TW Hydrae di bagian dalam piringan tersebut. Menurut Johnny, planet tersebut ditemukan saat mereka memantau kecepatan radial TW Hydrae. Saat itu mereka mendeteksi adanya variasi periodik yang bukan ditimbulkan oleh aktivitas bintang, namun mengarah pada keberadaan planet. Deteksi dilakukan dengan menggunakan spektograf FEROS pada teleskop 2,2 milik Max-Plank Institute dan ESO di La Silla, Chille.

TW-Hydra b yang baru ditemukan tersebut cukup masif dengan massa sekitar 10 kali massa Jupiter, dan mengelilingi bintang induknya hanya dalam waktu 3,56 hari pada jarak 6 juta km, atau sekitar 4% dari jarak Bumi-Matahari.

Pencarian planet pada bintang muda tentu tak lepas dari masalah aktivitas bintang, karena bintang di usia yang masih muda permukaannya masih tidak stabil. Salah satu contohnya, bintik bintang sangat besar dan bintik tersebut bisa meniru variasi kecepatan radial yang disebabkan oleh planet yang mengorbit. Menurut Ralf Launhart, untuk meniadakan berbagai kesalahan interpretasi, mereka telah meneliti seluruh indikator aktivitas dari TW Hydra secara mendetail. Hasilnya, mereka menemukan kalau karakteristik dari aktivitas bintang sangat berbeda, yakni tidak terlalu umum terjadi dan memiliki periode yang lebih pendek.

Penemuan TW Hydra b justru memberi angin segar dan bukti pertama dalam dunia teori pembentukan planet. Jika didasarkan pada studi statistik, masa hidup piringan antar bintang rata-rata sekitar 10-30 juta tahun. Ini menunjukan, kalau waktu maksimum yang tersedia untuk terbentuknya planet di dalam piringan hanya sampai 30 juta tahun. Dengan demikian TW Hydra b planet gas yang 10 kali lebih masif dari jupiter tersebut, terbentuk dalam waktu yang sangat singkat hanya pada kisaran 8 - 10 juta tahun.

Para peneliti di Max - Planck saat ini juga tengah mengembangkan instrumen generasi baru untuk mendeteksi extrasolar planet dengan teknik lainnya, seperti direct imaging, pengukuran gerak refleks yang sangat halus dari bintang pada bidang langit (astrometri), maupun untuk transit fotometri. Diharapkan di masa depan intrumen ini dapat mendeteksi planet-planet yang tidak dapat terdeteksi oleh metode kecepatan radial.

Semakin banyak penemuan sistem keplanetan tentu akan memberi pemahaman yang lebih luas dan lebih beragam mengenai sistem keplanetan itu sendiri. Di titik itu kita akan menempatkan Tata Surya dalam sebuah konteks universal dan mulai mencari sebuah jawaban lanjutan dari pertanyaan yang tak pernah mati, adakah teman di luar sana?


Source : Langitselatan

Atlantis Crew Preps For Mission to Hubble

Astronauts Prepare for Countdown Rehearsal

On Wednesday morning, the STS-125 astronauts will suit up in their orange launch-and-entry suits, ride to the launch pad aboard the Astrovan, and climb into space shuttle Atlantis for a countdown dress rehearsal. This countdown practice caps three days of standard prelaunch exercises for the crew at NASA’s Kennedy Space Center in Florida.

After meeting with members of the news media Tuesday morning, the astronauts trained for emergency egress at the launch pad. During their first day of activities, the crew members practiced driving the M-113 armored personnel carrier as part of their emergency training procedures. Commander Scott Altman and Pilot Gregory Johnson flew simulated landings in the Shuttle Training Aircraft.

Following the launch dress rehearsal, the astronauts will return to their home base at NASA’s Johnson Space Center in Houston to continue training for their mission to service the Hubble Space Telescope.

STS-125 Mission Specialist Megan McArthur.
Image above: STS-125 Mission Specialist Megan McArthur participates in emergency egress training at Launch Pad 39A.
Image credit: NASA



While the astronauts’ activities are centered at Launch Pad 39A, space shuttle Endeavour is nearby at Launch Pad 39B where it will be on standby in the unlikely event that a rescue mission for the Atlantis's crew would be necessary. After Endeavour is cleared from its duty as a rescue vehicle, workers will move it to pad 39A in preparation for liftoff on mission STS-126 to the International Space Station in November.

Source : NASA
 

Forum of Scientist Teenagers (FOSCA) Copyright © 2009 Cookiez is Designed by Ipietoon for Free Blogger Template